Jumat, 10 Juli 2026

Muktamar NU ke-35 Dibayangi Dugaan Intervensi Eksternal? Cak Dar Minta Peserta Tak Gadaikan Amanah

Photo Author
Zumardi Chaidir, Daulataceh.com
- Jumat, 10 Juli 2026 | 17:33 WIB
Mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur periode 1988–1992, Soedarsono Rahman
Mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur periode 1988–1992, Soedarsono Rahman

SURABAYA | DaulatAceh.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur periode 1988–1992, Soedarsono Rahman atau yang akrab disapa Cak Dar, mengingatkan pentingnya menjaga independensi para muktamirin sebagai pemegang mandat organisasi.

Menurut Cak Dar, Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU yang menentukan arah kebijakan organisasi sekaligus memilih kepengurusan baru. Karena memiliki nilai strategis bagi kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan, forum tersebut dinilai berpotensi menarik perhatian berbagai pihak di luar organisasi.

"Saya berharap seluruh muktamirin tetap menjaga independensi. Masa depan NU harus ditentukan oleh kebijaksanaan para pemegang mandat, bukan oleh kekuatan atau kepentingan yang berasal dari luar arena Muktamar," ujar Cak Dar.

Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur itu mengaku menangkap adanya sinyalemen bahwa berbagai pihak mulai melakukan pendekatan kepada sejumlah peserta Muktamar. Ia menilai, komunikasi dengan peserta merupakan hal yang wajar selama tetap berada dalam koridor etika organisasi dan tidak memengaruhi kebebasan muktamirin dalam menentukan pilihan.

"Saya mencium ada gelagat seperti itu. Ada dugaan berbagai bentuk pendekatan kepada PWNU, PCNU maupun PCINU sebagai pemegang mandat. Karena itu saya mengajak seluruh peserta tetap waspada dan menjaga amanah yang dibawanya," katanya.

Cak Dar menjelaskan bahwa dalam berbagai forum organisasi berskala besar, bentuk pendekatan dapat beragam, mulai dari jamuan, fasilitas penginapan, bantuan transportasi, pemberian cendera mata, hingga bentuk perhatian lainnya. Menurutnya, hal-hal tersebut perlu disikapi secara bijaksana agar tidak menimbulkan persepsi yang dapat mengurangi marwah forum.

Ia menegaskan bahwa mandat yang dibawa para muktamirin merupakan amanah warga NU di daerah masing-masing. Oleh sebab itu, setiap keputusan seharusnya lahir dari proses musyawarah, pertimbangan keilmuan, serta komitmen terhadap kemaslahatan organisasi.

"Muktamar harus menjadi ruang adu gagasan, adu rekam jejak, dan adu kapasitas kepemimpinan, bukan arena yang dipengaruhi kepentingan di luar mekanisme organisasi," tegasnya.

Di sisi lain, Cak Dar mengapresiasi kesiapan panitia dan masyarakat Jombang dalam menyambut pelaksanaan Muktamar. Ia menilai penyelenggaraan Muktamar akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat sekitar, terutama sektor akomodasi, transportasi, dan usaha mikro.

Namun demikian, menurutnya, keberhasilan Muktamar tidak hanya diukur dari kelancaran persidangan maupun terpilihnya kepengurusan baru.

"Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika seluruh proses berlangsung secara bermartabat, transparan, serta menjaga independensi para muktamirin. Dari situlah legitimasi moral kepemimpinan NU akan lahir dan dipercaya oleh seluruh warga nahdliyin," pungkasnya.

Editor: Zumardi Chaidir

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Terkini

X