religi

FURQAN: CAHAYA YANG MENYELAMATKAN KEPEMIMPINAN

Jumat, 10 Juli 2026 | 15:57 WIB
By Khairuddin
Banda Aceh | DaulatAceh.com - Sebelum pembahasan ini dimulai, penulis perlu menyampaikan bahwa tulisan ini lahir dari beberapa pertanyaan tentang bagaimana seseorang dapat selamat dalam memimpin, serta dari sejumlah peristiwa yang penulis amati di lapangan.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung seseorang atau kelompok tertentu. Ia hanya menjadi bahan renungan bersama tentang pentingnya kejernihan hati, ketakwaan, dan nilai furqan dalam kepemimpinan
Ada satu nikmat yang sering luput dari doa para pemimpin. Mereka meminta jabatan yang lebih tinggi, rezeki yang lebih luas, bawahan yang patuh, bahkan umur yang panjang. Namun, sedikit yang memohon agar Allah menganugerahkan furqan, padahal tanpa furqan, jabatan hanya akan memperbesar peluang untuk salah. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan. (QS. Al-Anfal: 29).
Furqan bukan sekadar kemampuan membedakan hitam dan putih. Itu terlalu mudah. Yang sulit adalah membedakan dua hal yang sama-sama tampak benar. Membedakan antara loyalitas dan penjilatan. Antara masukan yang tulus dan bisikan yang mempunyai agenda. Antara kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umum dan kebijakan yang hanya menguntungkan lingkaran tertentu.
Di sinilah ketakwaan menjadi sumber kejernihan. Sebab hati yang dipenuhi kepentingan tidak akan mampu melihat kebenaran secara utuh. Ia hanya melihat apa yang menguntungkan dirinya.
Dalam dunia administrasi, semua keputusan bisa dibuat tampak sah. Ada suratnya, ada parafnya, ada stempelnya, bahkan ada foto dokumentasinya. Berkasnya lengkap. Prosedurnya terlihat benar. Namun, Allah tidak hanya melihat kelengkapan administrasi. Allah juga melihat niat, proses, dan keadilan yang melatarbelakanginya.
Karena itu, administrasi tidak boleh hanya menjadi alat untuk melegalkan keputusan. Administrasi harus menjadi sarana menjaga amanah. Berkas boleh rapi, tetapi hati juga harus rapi. Arsip boleh tertata, tetapi nurani jangan sampai berdebu.
Hari ini kita hidup pada masa ketika orang sering sibuk mencari pembenaran daripada mencari kebenaran. Ketika sebuah keputusan dikritik, yang dicari bukan apakah keputusan itu adil, tetapi bagaimana menemukan pasal yang dapat membenarkannya. Padahal hukum hadir untuk menjaga keadilan, bukan untuk menjadi tameng bagi kepentingan.
Seorang pemimpin yang memiliki furqān tidak mudah terpesona oleh suara yang paling keras. Ia justru mendengar suara yang paling jujur. Ia tidak tergesa-gesa mengambil keputusan hanya karena desakan. Ia sadar bahwa keputusan yang cepat belum tentu tepat, sedangkan keputusan yang adil hampir selalu membutuhkan keberanian.
Ada satu penyakit yang pelan-pelan merusak tata kelola organisasi. Penyakit itu bukan kurangnya anggaran. Bukan pula kurangnya pegawai. Penyakit itu adalah ketika keputusan mulai dipengaruhi oleh kedekatan, bukan kelayakan. Ketika hubungan lebih dihargai daripada kompetensi. Ketika bisikan di ruang tertutup lebih menentukan daripada musyawarah di ruang terbuka.
Kalau keadaan seperti ini dibiarkan, organisasi memang masih berdiri. Gedungnya tetap megah. Papan namanya tetap bersinar. Upacaranya tetap berlangsung. Namun, ruh keadilannya perlahan menghilang.
Ada guyonan yang sering terdengar dengan nyaring di warung warung kopi "Kalau ingin usul cepat disetujui, jangan hanya bawa map. Bawa juga yang suka membuka map itu."
Semua tertawa. Padahal guyonan semacam ini biasanya lahir dari pengalaman yang berulang. Humor sering menjadi cara paling sopan untuk menyampaikan luka.
Pemimpin sejati tidak alergi terhadap kritik. Ia justru khawatir jika semua orang selalu mengatakan, "Siap, Pak." Sebab belum tentu itu tanda hormat. Bisa jadi itu tanda bahwa tidak ada lagi yang berani mengingatkan.
Kepemimpinan yang sehat bukan yang membuat bawahan takut berbicara. Kepemimpinan yang sehat adalah yang membuat setiap orang merasa aman menyampaikan kebenaran, sekalipun pahit.
Furqān juga mengajarkan bahwa tidak semua yang legal pasti bermoral. Ada keputusan yang tidak melanggar aturan, tetapi melukai rasa keadilan. Ada tindakan yang sulit dipersoalkan secara administratif, tetapi meninggalkan luka yang panjang dalam hati orang-orang yang diperlakukan tidak adil.
Di sinilah seorang pemimpin diuji. Apakah ia cukup puas karena tidak melanggar pasal, atau ia ingin memastikan bahwa setiap kebijakannya juga tidak melukai nilai kemanusiaan.
Jabatan pada akhirnya hanyalah masa singkat. Hari ini seseorang duduk di kursi pimpinan, besok orang lain menggantikannya. Yang tetap hidup bukan nama jabatan, melainkan cerita tentang bagaimana jabatan itu dijalankan.
Orang mungkin lupa berapa lama seseorang memimpin. Namun, mereka sulit melupakan apakah selama memimpin ia menghadirkan rasa adil atau justru meninggalkan rasa takut.
Karena itu, sebelum menandatangani sebuah keputusan, berhentilah sejenak. Tanyakan kepada hati, "Apakah keputusan ini lahir dari amanah atau dari pengaruh? Dari keadilan atau dari kedekatan? Dari ketakwaan atau dari tekanan?"
Sebab tinta tanda tangan akan mengering hanya dalam beberapa detik. Akan tetapi, akibat dari keputusan itu bisa bertahan bertahun-tahun. Bahkan kelak, di hadapan Allah, bukan indahnya tanda tangan yang ditanya, melainkan apakah di balik tanda tangan itu masih ada furqān, cahaya yang membimbing seorang pemimpin untuk tetap adil ketika tidak ada seorang pun yang mampu mengawasinya.
Itulah sebabnya Allah tidak menjanjikan jabatan kepada orang yang bertakwa. Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu furqān. Dengan furqān, seseorang tidak hanya mampu memimpin organisasi, tetapi juga mampu memimpin dirinya sendiri. Dan pemimpin yang berhasil mengalahkan kepentingan dirinya, dialah yang paling dekat dengan keadilan.

Terkini

FURQAN: CAHAYA YANG MENYELAMATKAN KEPEMIMPINAN

Jumat, 10 Juli 2026 | 15:57 WIB